Rabu, 16 November 2011 | 18:56 WIB
TEMPO Interaktif, Palembang - Pelari jarak jauh Triyaningsih dan Yahuza menutup perjalanan tim atletik Indonesia di SEA Games XXVI 2011 dengan sempurna. Mereka mempersembahkan emas terakhir dari nomor lari maraton yang menyusuri Jalan Gubernur A Bastari, Jakabaring, Rabu 16 November 2011. Indonesia pun sukses mengantongi 13 emas, 12 perak dan 11 perunggu.
Tim Merah Putih menempati posisi kedua di klasemen umum cabang atletik, di bawah Thailand yang unggul dengan 14 emas, delapan perak dan 10 perunggu. Dengan perolehan medali sebanyak ini, Indonesia mengulang sukses di SEA Games 1993 Singapura saat menjadi juara umum. “Kita menjadikan ini sebagai momen kebangkitan kembali atletik,” ujar manajer atletik Paulus Lay saat ditemui di Wisma Atlet Kompleks Olahraga Jakabaring.
Secara tak terduga, Indonesia memperbaiki raihan medali di SEA Games XXV 2009 Laos yang hanya bisa mencapai tujuh medali emas. Dua emas terakhir dipersembahkan Triyaningsih dan Yahuza di lari terjauh, maraton. Triyaningsih yang finis tercepat dengan 2 jam 45 menit 36 detik juga membukukan emas ketiga setelah dari nomor 5 ribu dan 10 ribu meter. Diikuti pelari asal Myanmar Ni Lar San dengan 2 jam 46 menit 37 detik. Posisi ketiga diraih pelari Vietnam Pham Thai Bienh dengan 2 jam 46 menit 37 detik.
Yahuza berhak atas emas setelah membukukan waktu tercepat di bagian putra dengan 2 jam 27 menit 45 detik. Lebih cepat dibandingkan dua pelari Filipina Eric Panique (2 jam 28 menit 26 detik dan Eduardo Bueniviesta (2 jam 29 menit 9 detik).
Di mata Paulus, pembinaan dan adanya regenerasi menjadi kunci utama tim atletik makin membaik. Paulus bahkan menegaskan jika 80 persen atlet yang menyumbangkan emas merupakan wajah-wajah baru. “Kami kehilangan medali emas di nomor 100 meter lari gawang dari Dedeh Erawati. Namun kami berhasil meraih emas di nomor bergengsi 100 meter putra dan putri, berkat adanya regenerasi,” ujar Paulus.
Pelari berusia 20 tahun Franklin Ramses Burumi tampil memukau dengan merebut dua medali emas di nomor bergengsi 100 meter dan 200 meter. Dia juga mengambil bagian di perebutan medali 4 x 100 meter estafet putra yang sudah 26 tahun terakhir menjadi milik Thailand. Franklin menutupi ketidakhadiran Suryo Agung Wibowo yang memilih menunaikan ibadah haji di SEA Games kali ini.
Faktor tuan rumah juga dianggap menjadi penentu prestasi para atlet atletik Indonesia. "Mereka seperti lebih terpacu untuk bisa mempersembahkan yang terbaik,” ucap Paulus. Untuk selanjutnya, PASI akan berusaha mengejar limit Olimpiade. Paulus melihat ada Franklin dan Triyaningsih yang memiliki peluang untuk dapat mencapai limit B.
Di lari 100 meter putra, pelari bisa lolos dengan waktu 10,25 detik. "Saya ingin bisa lolos ke London. Langkah awal mungkin saya akan tampil di Kejuaraan Asia Grand Prix,” ujar Franklin. Hal serupa juga sudah dibidik Triyaningsih. “Tiga emas di SEA Games adalah pertama untuk saya. Berikutnya, saya ingin mencari limit untuk Olimpiade. Setelah pulih, saya akan melakukan persiapan sepenuhnya,” kata Tri.
Jakarta (ANTARA News) - Dua petenis meja Singapura Feng Tian Wei dan Gao Ning masing-masing merebut medali emas nomor tunggal putri dan tunggal putra SEA Games XXVI di GOR Soemantri Brojonegoro, Jakarta, Rabu malam.
Pada final yang mempertemukan sesama pemain Singapura itu, tunggal putri Feng Tian mengalahkan Liyun Isabelle 4-0, sementara pada final tunggal putra Gao Ning menundukkan Yang Zi juga dengan 4-0.
"Kami bermain segenap kemampuan dan tidak ada instruksi untuk mengalah," kata Gao setelah memenangi pertandingan dengan skor 11-6, 11-9, 12-10 dan 11-8.
Gao yang kini berusia 29 tahun itu mengatakan bahwa ia telah mengenal karakter permainan lawannya.
Petenis meja peringkat 18 dunia itu banyak mendapat poin dari pukulan spin terarah yang keras ke sisi kiri lawan. Gao juga memiliki servis bagus sehingga bola kembalian lawan seringkali menjadi kartu as baginya untuk mendapatkan poin.
Dalam pertandingan yang disaksikan sekitar 400-an penonton itu, tidak banyak terjadi reli-reli serta adu pukulan spin. Beberapa kali sempat terjadi reli namun diakhiri dengan pengembalian Yang Zi yang terlalu melebar hingga menjadikan poin bagi Gao.
Medali perunggu di nomor ini diraih oleh Ficky Supit Santoso setelah pada semifinal menyerah dari Yang Zi dengan skor 2-4. Meski ia berkali-kali mampu melakukan serangan mematikan baik menggunakan spin kiri maupun kanan yang sama baiknya tapi lawan yang dihadapi masih terlalu tangguh untuknya.
Putra dari mantan petenis meja nasional Sinyo Supit itu, juga memiliki servis yang baik dan sering kali mampu meraih poin dari serangan atas pengembalian bola lawan.
Kekalahan Ficky banyak diakibatkan ketidakmampuannya meladeni adu spin dari Yang Zi yang bertubuh tinggi besar dan lebih bertenaga serta lincah.
Perunggu lain didapat petenis meja Vietnam Tran T Q setelah pada semifinal kalah dari Gao Ning dengan skor 4-1.
Pada final tunggal putri yang juga mempertemukan sesama pemain Singapura, Feng Tian Wei yang berperingkat empat dunia membungkam ambisi Liyun Isabelle dengan skor telak 4-0.
Dalam pertandingan itu Feng banyak mendapat poin dari bola bola kontranya yang matang dengan penempatan jitu sehingga akhirnya Liyun mati langkah, bola nyangkut atau pengembaliannya melebar melewati meja.
Feng juga banyak meraih angka dari pukulan spinnya yang gagal dikembalikan lawan. Liyun sebenarnya juga memberikan perlawanan hebat terbukti dengan berkali-kali serangannya bisa menghasilkan poin tapi tidak sampai menutup set.
Medali perunggu diraih Christine Ferliana dari Indonesia yang pada semifinal kalah dari Feng 1-3 dan juga diraih My Tranh dari Myanmar yang pada semifinal dikalahkan Si Yun 1-3. (M027/I015)
Tim Merah Putih menempati posisi kedua di klasemen umum cabang atletik, di bawah Thailand yang unggul dengan 14 emas, delapan perak dan 10 perunggu. Dengan perolehan medali sebanyak ini, Indonesia mengulang sukses di SEA Games 1993 Singapura saat menjadi juara umum. “Kita menjadikan ini sebagai momen kebangkitan kembali atletik,” ujar manajer atletik Paulus Lay saat ditemui di Wisma Atlet Kompleks Olahraga Jakabaring.
Secara tak terduga, Indonesia memperbaiki raihan medali di SEA Games XXV 2009 Laos yang hanya bisa mencapai tujuh medali emas. Dua emas terakhir dipersembahkan Triyaningsih dan Yahuza di lari terjauh, maraton. Triyaningsih yang finis tercepat dengan 2 jam 45 menit 36 detik juga membukukan emas ketiga setelah dari nomor 5 ribu dan 10 ribu meter. Diikuti pelari asal Myanmar Ni Lar San dengan 2 jam 46 menit 37 detik. Posisi ketiga diraih pelari Vietnam Pham Thai Bienh dengan 2 jam 46 menit 37 detik.
Yahuza berhak atas emas setelah membukukan waktu tercepat di bagian putra dengan 2 jam 27 menit 45 detik. Lebih cepat dibandingkan dua pelari Filipina Eric Panique (2 jam 28 menit 26 detik dan Eduardo Bueniviesta (2 jam 29 menit 9 detik).
Di mata Paulus, pembinaan dan adanya regenerasi menjadi kunci utama tim atletik makin membaik. Paulus bahkan menegaskan jika 80 persen atlet yang menyumbangkan emas merupakan wajah-wajah baru. “Kami kehilangan medali emas di nomor 100 meter lari gawang dari Dedeh Erawati. Namun kami berhasil meraih emas di nomor bergengsi 100 meter putra dan putri, berkat adanya regenerasi,” ujar Paulus.
Pelari berusia 20 tahun Franklin Ramses Burumi tampil memukau dengan merebut dua medali emas di nomor bergengsi 100 meter dan 200 meter. Dia juga mengambil bagian di perebutan medali 4 x 100 meter estafet putra yang sudah 26 tahun terakhir menjadi milik Thailand. Franklin menutupi ketidakhadiran Suryo Agung Wibowo yang memilih menunaikan ibadah haji di SEA Games kali ini.
Faktor tuan rumah juga dianggap menjadi penentu prestasi para atlet atletik Indonesia. "Mereka seperti lebih terpacu untuk bisa mempersembahkan yang terbaik,” ucap Paulus. Untuk selanjutnya, PASI akan berusaha mengejar limit Olimpiade. Paulus melihat ada Franklin dan Triyaningsih yang memiliki peluang untuk dapat mencapai limit B.
Di lari 100 meter putra, pelari bisa lolos dengan waktu 10,25 detik. "Saya ingin bisa lolos ke London. Langkah awal mungkin saya akan tampil di Kejuaraan Asia Grand Prix,” ujar Franklin. Hal serupa juga sudah dibidik Triyaningsih. “Tiga emas di SEA Games adalah pertama untuk saya. Berikutnya, saya ingin mencari limit untuk Olimpiade. Setelah pulih, saya akan melakukan persiapan sepenuhnya,” kata Tri.
Feng dan Gao rebut emas tenis meja
Kamis, 17 November 2011 05:13 WIB | 1694 Views
Atlet tenis meja Singapura Feng Tian Wei (kiri) dan Gao Ning masing-masing berperingkat 4 dan 18 dunia berpasangan pada nomor ganda campuran tenis meja SEA Games XXVI, di Gelanggang Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (13/11). Keduanya merupakan unggulan pertama dalam cabang tenis meja putra dan putri pada SEA Games XXVI kali ini. (FOTO ANTARA/Fanny Octavianus)
Pada final yang mempertemukan sesama pemain Singapura itu, tunggal putri Feng Tian mengalahkan Liyun Isabelle 4-0, sementara pada final tunggal putra Gao Ning menundukkan Yang Zi juga dengan 4-0.
"Kami bermain segenap kemampuan dan tidak ada instruksi untuk mengalah," kata Gao setelah memenangi pertandingan dengan skor 11-6, 11-9, 12-10 dan 11-8.
Gao yang kini berusia 29 tahun itu mengatakan bahwa ia telah mengenal karakter permainan lawannya.
Petenis meja peringkat 18 dunia itu banyak mendapat poin dari pukulan spin terarah yang keras ke sisi kiri lawan. Gao juga memiliki servis bagus sehingga bola kembalian lawan seringkali menjadi kartu as baginya untuk mendapatkan poin.
Dalam pertandingan yang disaksikan sekitar 400-an penonton itu, tidak banyak terjadi reli-reli serta adu pukulan spin. Beberapa kali sempat terjadi reli namun diakhiri dengan pengembalian Yang Zi yang terlalu melebar hingga menjadikan poin bagi Gao.
Medali perunggu di nomor ini diraih oleh Ficky Supit Santoso setelah pada semifinal menyerah dari Yang Zi dengan skor 2-4. Meski ia berkali-kali mampu melakukan serangan mematikan baik menggunakan spin kiri maupun kanan yang sama baiknya tapi lawan yang dihadapi masih terlalu tangguh untuknya.
Putra dari mantan petenis meja nasional Sinyo Supit itu, juga memiliki servis yang baik dan sering kali mampu meraih poin dari serangan atas pengembalian bola lawan.
Kekalahan Ficky banyak diakibatkan ketidakmampuannya meladeni adu spin dari Yang Zi yang bertubuh tinggi besar dan lebih bertenaga serta lincah.
Perunggu lain didapat petenis meja Vietnam Tran T Q setelah pada semifinal kalah dari Gao Ning dengan skor 4-1.
Pada final tunggal putri yang juga mempertemukan sesama pemain Singapura, Feng Tian Wei yang berperingkat empat dunia membungkam ambisi Liyun Isabelle dengan skor telak 4-0.
Dalam pertandingan itu Feng banyak mendapat poin dari bola bola kontranya yang matang dengan penempatan jitu sehingga akhirnya Liyun mati langkah, bola nyangkut atau pengembaliannya melebar melewati meja.
Feng juga banyak meraih angka dari pukulan spinnya yang gagal dikembalikan lawan. Liyun sebenarnya juga memberikan perlawanan hebat terbukti dengan berkali-kali serangannya bisa menghasilkan poin tapi tidak sampai menutup set.
Medali perunggu diraih Christine Ferliana dari Indonesia yang pada semifinal kalah dari Feng 1-3 dan juga diraih My Tranh dari Myanmar yang pada semifinal dikalahkan Si Yun 1-3. (M027/I015)
Editor: B Kunto Wibiso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar