Jumat, 30 September 2016
Belenggu
Belenggu
Karya
: Ary Januar
Aku terbelenggu dengan yang
namanya Cinta. Cinta yang membuat aku berpikitr bahwa itu adalah sebuah larutan
ajaib, yang membuat orang yang merasakannya akan bahagia untuk selamanya.
Ternyata bukan, itu adalah sebuah belenggu. Layaknya sebuah belenggu, belenggu itu terus
menggerogtiku, menggorogotiku hingga ke hati lebih tepatnya. Rasanya sakit tapi
tidak mengucurkan darah. Yah, Sudahlah bukankah pelajaran dari mencintai adalah
mengikhlaskan. Tapi, Aku terlanjur cinta kepadanya, Bukan terlanjur juga sih,
lebih tepatnya benar-benar mencintainya. Ah, apasih yang sebenarnya aku
bicarakan. Aku ingin berbicara tentang Indahnya Cinta atau Belenggu Cinta sih. Sudahlah
aku akan menceritakan yang berkenaan dengan Cinta.
Tak pernah terlintas
sedetikpun ingatanku tentangnya. Dia yang membuat Aku berpikir untuk
memalingkan pandanganku terhadap wanita lain selain dirinya. Ya Allah, padahal
sebelum bertemu dengannya, bukankah engaku telah memberitahuku melalui firmanmu
untuk selalu menundukan dan memalingkan pandanganku terhadap wanita yang bukan
dengan mukhrimku, tapi masih saja tetap aku abaikan perintahmu. Tapi setelah
bertemu dengannya, alam sadarku memerintahkan untuk mengikuti perintahmu. Tapi,
tidak untuk dengannya, sebanyak mungkin aku untuk mencuri-curi pandanganku
terhadapnya. (Ampuni aku Ya Allah).
Aku mencintai seorang
Wanita, Yah tentunya aku memiliki orientasi ketertarikan dengan seorang wanita.
Aku bukanlah seorang pria yang memiliki orientasi ke sesama jenis. Aku
mencintai seorang wanita, Bahkan aku memuji mereka sebagai salah satu ciptaan
Alllah yang luarbiasa, yangmana Alquran telah memberikan kedudukan yang khusus
untuk seorang Wanita.
Dia adalah wanita yang unik,
dia adalah wanita yang tidak bisa menyebut huruf “R” , dan konyolnya aku baru
menyadari hal tersebut setelah aku kenal lebih dari 6 bulan lamanya. Yah, aku
sudah cukup lama kenal denganya. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika
organisasi kami memiliki Open Recruitment.
Bukan sebuah Cinta pada Pandangan Pertama, tapi pertemuan tersebut adalah
sebuah kesan yang kelak akan menumbuhkan Cinta di kemudian hari pada diriku.
Naluri seorang Pria dalam
diriku seolah-olah bangkit kembali, dan ini adalah kali pertama pasca aku putus
dengan mantan pertamaku. Yah, cukup lama bagiku untuk beralih hati, sudah 3
tahun lamanya aku jomblo. Dan pada akhirnya, aku bertemu wanita yang tidak bisa
berkata huruf “R” ini, seperti Move On
adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana saat itu. Aku mencoba untuk
melakukan fase yang pertama dalam suatu percintaan yaitu PDKT. Selalu kuhubungi
Dia melalui aplikasi chat yang ada. Yah,
sekedar basa-basi, mulai dari pernyataan yang tidak penting hingga ke hal yang
menjurus. Dan hal tersebut berlangsung cukup lama.
Beberapa bulan telah ku
lewati, hingga pada akhirnya aku harus berangkat dalam rangka memenuhi mata
kuliah yaitu Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Dalam KKL aku tidak pernah untuk
tidak memikirkannya, Aku bahkan mengirimkan sesuatu yang mungkin orang-orang lain
berpikir, itu adalah hal yang konyol. Aku membuat sebuah tulisan disebuah
tempat terpopuler di Bali yaitu Pantai Pandawa yang sangat indah, maka maha besar
Allah dengan segala ciptaanya. Aku membuat sebuah tulisan sebuah pernyataan
bahwa Aku mencintainya. Dan Pantai Pandawa menjadi saksinya.
Waktu berlalu sangat lama,
dan fase yang terjadi hanyalah saling berbalas di media. Tidak ada fase lebih
lanjut, padahal aku sebenarnya ingin melanjutkan sebuah fase selanjutnya. Tapi,
keragu-raguan ku selalu muncul untuk melanjutkan fase selanjutnya. Terkadang
ketika aku ingin mengajaknya ke suatu tempat atau sekedar untuk mengantarnya
sampai ke rumah selalu kandas dengan hasil penolakan darinya. Aku selalu
bertanya-tanya, apakah dia mencintaiku atau tidak. Dan keragu-raguan inilah
yang membuat aku menjadi seorang pria yang selalu merasa bersalah. Bersalah
yang pada akhirnya ini akan menentukan hubungan kami di waktu yang akan datang.
Yah, Penyesalan selalu datang belakangan.
Hubungan adik kakak tapi
mesra mungkin sebuah frase inilah yang lebih tepatnya untuk menggambarkan
hubungan kami. Terkadang, aku dibuat bingung olehnya, Dia marah padaku, tentang
apa yang aku lakukan seperti tidak membalasa pesannya karena sesuatu hal yang
membuat aku lupa untuk membalasnya, atau memarahi aku karena aku tidak pernah
untuk mengawali chat. Dan selalu membuat aku merasa bersalah atas
pernyataannya. Atau membuatku senang karena dia menyapaku dengan sebutan
sayang. Seakan-akan kita memiliki hubungan jauh tapi kita hanya sebatas adik
dan kakak tingkat.
Saat aku yakin bahwa dia
memang benar-benar mencintaiku, sebuah masalah lainnya datang. Dimana aku harus
menunda perasaanku terhadapnya, Aku harus merelakan cintaku untuk sementara
waktu, untuk sesuatu hal yang mendesak. Yaitu krisis kepemimpinan yang organisasi
kami alami. Sebuah organisasi yang pada akhirnya harus terpecah diantara kedua
belah pihak didalam internal kami. Aku adalah orang yang menjadi alasan untuk
terpecahnya hal tersebut. Aku yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi,
harus menyampingkan urusan Cinta untuk mengutamkan keselamatan Organisasi. Sebenarnya
aku tidak ingin melibatkannya dalam hal ini. Tapi, Dialah wanita yang aku
cintai yang mendorongku untuk maju kedalam lingkaran kepemimpinan ini, dia
adalah orang yang memberiku semangat disaat aku terpuruk dalam masa-masa itu.
Sehingga aku membulatkan tekad untuk maju sebagai seorang pemimpin. Hingga pada
akhirnya aku terpilih mengemban tongkat estafet kepemimpinan ini.
Setelah itu, aku melanjutkan
PDKT intensifku terhadapnya, kuusahakan menghabiskan waktu sebanyak mungkin
kepadanya, sebelum masa sibuk mendatangiku. Tapi, ternyata aku membuatnya
terlalu lama menunggu. Sangat lama, sehingga membuat dia sangat marah
terhadapku. Pertengahan di pertengahan bulan Juni lebih tepatnya, dimana dia
menanyakan kejelasan tentang hubungan ini. Dan dia menyimpulkan bahwa semakin
kesini bahwa semakin tidak jelasnya hubungan antara kami berdua. Dan tentunya
hal ini membuat aku kaget. Sehingga hal ini berhasil membuat aku galau cukup
lama.
Beberapa minggu pasca
penyataannya terhadapku, aku memberanikan diri untuk menyatakan sesuatu kepadanya.
Dengan keberanian, kucoba untuk mengajakya pulang bersama, malangnya ditengah
jalan kami harus berteduh karena guyuran hujan yang deras membasahi jalan yang
melintasi jalan kami. Disaat berteduh aku menyatakan persaanku terhadapnya,
bahwa aku menawarkan kepadanya untuk menjadi seorang pacarku. Sontak, hal
tersebut membuatnya kaget. Dia kebingungan akan peryataanku, yang dianggapnya
terlalu mendadak. Tapi, aku menyuruhnya untuk memikirkan dan menimbangkan hal
tersebut. Tapi, yang aku dengar terhadapnya bahwa saat itu, dia sedang dekat
dengan orang lain selain dengan diriku. Dan, yang sedang mendekatinya sedang
berpatah hati yang membuat dia merasa tidak keenakan apabila orang lain
tersebut merasa patah hati untuk kedua kalinya. Aku tak tahu apakah ini berarti
aku ditolak atau apalah namanya hal tersebut, yang pasti aku tetap setia
menuggu jawabanya pada saat itu. Diterima atau tidaknya aku. Dan aku menunggu
untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya waktu itu belenggu cinta itu pun
akan datang pada saatnya.
Wisuda adalah moment
terakhir menurutku, moment dimana aku dan dia menghabiskan waktu bersama. Aku
dan Dia memberikan sebuah bunga kepada masing-masing orang yang kami pilih, Aku
memilih untuk memberikan bunga terhadap teman kecilku sekaligus saudari bagiku.
Sedangkan dia memberikan kepada seorang pria, yang aku sendiri tidak tahu apa
hubungan dia dan pria tersebut, yang aku tahu adalah bahwa aku cemburu. Karena,
ketika aku mengabarinya untuk menyusulnya, dia selalu menolaknya. Dan, sebelum
kami memberikan bunga ke masing-masing orang, aku menyempatkan diriku unutk
memberikan setangkai bunga mawar merah dan berphoto bersama yang mana photo
bersama ini adalah kali pertamanya diantara kami berdua berpoto dalam satu frame
yang sama. Tapi, setelah wisuda usai dan kami pulang bersama. Aku menyadari
bahwa bunga yang kuberikan padanya telah hilang. Iya, hilang. Seolah-olah
sebuah pertanda dari Allah tentang sebuah hubungan ini kedepannya.
Beberapa hari Pasca Wisuda,
Ketika aku berkunjung kerumahnya untuk mengambil sesuatu. Dirumahnya, aku
mendapati sebuah kejadianya yang membuat hatiku sangat sakit. Dimana aku
melihat, ada seorang pria dengan membawa rokok ditanganya sedang berkunjung
kerumahnya. Tidak perlu ditebak, aku tahu bahwa pria tersebut adalah pria yang
sedang mendekatinya. Aku yakin dengan hal itu karena, Wanita yang kucintai
menyambutnya dengan sebuah pakaiannya yang sangat tidak seperti biasanya.
Langsung saja, setelah urusanku selesai, aku langusng pulang. Aku menangis
sejadi-jadinya dijalan setelah melihat hal tersebut. Aku memang pria yang
sangat lemah, hal tersebut saja membuat aku mengangis. Aku bahkan tak tahu, ada
hubungan apa antara mereka berdua sebenarnya. Yang aku percayai pada saat itu
hanya persaanku saja, persaan yang menyatakan bahwa aku telah dikalahkan oleh
seorang “Pria Perokok”
Setelah itu, aku memutuskan
untuk mengurangi kedekatanku dengannya, aku mulai untuk membuat jarak antara
kami berdua. Aku memutuskan untuk tidak membuat sebuah jalinan komunikasi
terhadapnya. Sebuah ketidakprofesionalan telah aku ambil pada saat itu, padahal
Dia adalah Bendahara didalam Organisasi kami. Tapi, ternyata cinta tidak bisa
membuat aku melakukan hal tersebut. Aku memulai untuk berbicara seolah-olah
tidak ada yang terjadi dan aku mulai menceritakan kepedihanku terhadap orang
lain, walaupun dia menyadari akan hal tersebut. Sontak saja, hal tersebut membuat
dia marah terhadapku, mememberikan kekecewaannya terhadapku. Aku mulai mencoba
lagi, mungkin saja dia bisa mencintaiku seperti dulu. Aku mengupload photo kami
berdua di Instagram, yang menunjukan bahwa aku menyukainya. Benar-benar
mencintanya. Tapi, tenyata aku selalu kalah dalam sebuah pertarungan dan
perang. Lagi-lagi dia telah dekat dengan Pria lain. Dan kali ini, Pria tersebut
aku kenal betul siapa pria tersebut. Pria tersebut dapat dikatakan adalah
sebuah partner dalam kehidupan ini, partner perubahan lebih tepatnya.
Sakit, Menangis, Mimpi yang
konyol tentang dirinya dengan sang partner. Seolah-olah tidak pernah
merelakannya dengan orang lain. Terlanjur Cinta, Yah aku terlanjur cinta
padanya, tapi sayang sepertinya rasa cinta terhadapku, sudah dia hilangkan.
Yah, aku memang pria yang tak peka, Ketidaktahuanku membuat aku harus
menyadarkanku bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Cinta yang aku miliki seolah-olah
menjadi beban, benalu, Belenggu yang terus-terusan menyiksaku. Sakit sih tapi
tidak berdarah.
Belenggu Cinta
Terbelenggu dalam sebuah balutan Cinta.
Cinta yang membuat aku lupa kepada yang menciptakan cinta sesungguhnya
Padahal yang aku cintai adalah hanya ciptaannya yang memberikan Cinta
Sesungguhnya Cintaku yang besar harusnya kuberikan terhadap Allah semata
Sepertigamalam aku lalui hanya untuk meminta semoga dia menjadi jodohku
Berharap dia akan menjadi Jodohku
Tapi, rasanya cinta mengkhiantiku.
Seolah-olah keberpihakan cinta bukanlah miliku
Aku yang telah kalah dalam pertarungan
Membuat aku harus menyiasati strategi perang
Strategi perang, sebuah hal konyol
Tertulis tapi susah untuk implementasi
Aku dalam sebuah kebelengguan
Belenggu yang membaut aku sadar, bahwa terkadang
Cinta harus membuat keputusan untuk tidak datang terlambat.
Tapi datang diwaktu yang tepat
Langganan:
Postingan (Atom)